Pages

Selasa, 10 April 2012

Beda Zaman

"Papaa.. Owin mau mainan yang itu!" teriak anakku, sambil menarik lenganku dan menunjukan permainan yang ingin dicobanya. "Nduk, berani?"* tanyaku. Dia mengangguk dan meyakinkanku, kalau dia bisa melakukan permainan itu.

Dia perempuan, berumur 3 tahun, ingin mencoba menaiki skuter dengan pedal yang digenjot, otoped. Permainan yang memang cocok dan selayaknya dimainkan oleh anak seumurannya, namun sebagai orang tua terkadang memiliki kekhawatiran berlebih apabila anaknya mencoba hal baru baginya atau hal yang belum pernah kita alami sebelumnya.

Orang tua juga terkadang teriak-teriak karena ngeri melihat anak-anaknya bermain, tapi mereka malah enjoy. Rasa khawatir itu terjadi karena kita berada pada zaman yang berbeda. Dulu, permainan yang biasa dilakukan paling cuma mainan kelereng, petak umpet, mobil-mobilan yang terbuat dari bambu dan hal semacamnya, tentu berbeda dengan semakin banyaknya jenis permainan yang sekarang ada.

Apa-apa yang dilakukan oleh anak-anak, belum tentu kita sebagai orang tuanya bisa melakukannya juga, terkadang orang tua berusaha menjaga agar anaknya tidak jatuh dan terluka pada saat bermain, tapi mereka sebenarnya paham atas dunianya. Dunia anak-anak, dunia bermain. Dengan memberikan kebebasan dan kepercayaan tentu akan membuat anak menemui pelajaran dan pengalaman barunya.

Semangat anak-anak ketika sedang mencoba melakukan permainan yang baru, dia akan berusaha menunjukan kepada orang tuanya, kalau dia bisa. Hal seperti itu, saya yakin orang tua tidak perlu melarang anak-anaknya bermain atau melakukan permainan yang belum pernah dilakukan, karena itu hanya akan melemahkan mental sang anak. 


*Nduk : sebutan atau panggilan untuk anak perempuan (Jawa)